Identifikasi Perubahan Garis Pantai dan Penutup Lahan Menggunakan Citra Satelit Landsat 7 ETM+ Tahun 2002 dan Tahun 2012 Kawasan Jakarta Utara Pasca Reklamasi Pantai Part 2

  1.       Pendahuluan

Kemajuan teknologi dan peningkatan kepadatan penduduk memberikan dampak yang significant terhadap peningkatan kebutuhan lahan untuk pemukiman, sarana dan prasarana pendukung lainnya. Keterbatasan lahan ini mendorong pemerintah DKI Jakarta untuk melakukan reklamasi pantai sebagai salah satu solusi bagi permasalahan tersebut (Maskur Ali, 2009).

 

Reklamasi pantai adalah sebuah kegiatan yang dilakukan untuk memperluas lahan dengan cara mengeringkan lahan kemudian menyemprotkan tanah atau pasir sebagai media penimbun dengan melakukan perlakuan – perlakuan khusus lainnya yang mendukung kestabilan lahan hasil reklamasi. Hasil reklamasi pantai di Jakarta Utara yang telah dilakukan sejak tahun 1980-an dimanfaatkan sebagai kawasan rumah susun, hunian, rekreasi dan perindustrian. Reklamasi selain berdampak positif dengan tersedianya lahan baru juga menimbulkan dampak negatif diantaranya kerusakan ekologi pesisir, penyempitan sungai, abrasi, dan perubahan pola arus pantai disepanjang pesisir pantai utara Jakarta Utara yang menyebabkan perubahan garis pantai dan penggunaan lahan pantai utara Jakarta Utara (Nugroho, 2010).

Garis pantai merupakan salah satu komponen penting dalam penentuan batas wilayah kekuasaan suatu Negara dan otonomi daerah. Kewenangan daerah propinsi di wilayah laut adalah sejauh 12 mil dari garis pantai ke arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepulauan sesuai dengan Pasal 1 UU No. 22 tahun 1999 (Sutisna, 2005). Oleh karena itu informasi garis pantai diperlukan mengingat bahwa garis pantai bersifat dinamis. Karena sifat kedinamisan garis pantai tersebut maka diperlukan pemantauan garis pantai dengan cara membuat peta perubahan garis pantai secara berkala mengingat di Jakarta Utara banyak dilakukan reklamasi pantai. Reklamasi pantai menimbulkan efek negative terhadap lingkungan sehingga perlu dilakukan studi analisis dampak lingkungan. Untuk studi analisis dampak lingkungan diperlukan peta perubahan garis pantai dan penutup lahan. Dengan hasil analisis tersebut akan mempermudah perencanaan dan menetapkan strategi pengoptimalisasi pengembangan wilayah pesisir demi kesejahteraan masyarakat.

Untuk memperoleh informasi perubahan garis pantai dan penutup lahan kawasan Jakarta Utara dilakukan proyek dengan memanfaatkan produk teknologi penginderaan jauh berupa citra satelit Landsat 7 ETM+. Sejauh ini teknologi penginderaan jauh dianggap sebagai teknologi yang baik untuk pemantauan perubahan garis pantai dan penutup lahan karena data citra satelit memberikan informasi yang up to date.

Citra satelit Landsat 7 ETM+ mengalami kerusakan pada scane line correctornya sehingga data yang dihasilkan mengalami stripping. Berdasarkan permasalahan pasca reklamasi dan kerusakan slc maka dilakukan proyek identifikasi perubahan garis pantai dan penutup lahan Jakarta Utara.

 2.          Metodologi

Pada proyek ini perubahan garis pantai dan penutup lahan menggunakan dua buat citra Landsat 7 ETM + meliputi tiga sub bagian yaitu (1) Pengolahan citra awal, (2) Pengolahan citra untuk perubahan penutup lahan, dan (3) Pengolahan citra untuk perubahan garis pantai.

  1. Pengolahan citra awal, pada pengolahan citra awal ini meliputi koreksi stripping untuk citra tahun 2012, koreksi radiometric, koreksi geometric, komposit warna dan cropping.
    1. Koreksi stripping dilakukan untuk mengisi kekosongan data pada citra tahun 2012 yang mengalami kerusakan sensor slc sehingga data yang dihasilkan berupa citra yang bergaris – garis hitam. Garis – garis hitam tersebut menandakan kekosongan data rekaman sehingga perlu dikoreksi. Pada proyek ini koreksi stripping menggunakan 5 citra pengisi dengan periode capture dekat dengan periode citra tahun 2012 namun tetap dalam satu tahun.
    2. Koresi radiometric pada proyek ini dilakukan dengan check histogram dan nilai statistic citra, jika nilai minimum 0 dan maksimum 225 berarti citra sudah terkoreksi radiometric.
    3. Koreksi geometric pada proyek ini dilakukan dengan menggunakan metode registrasi image to image. Citra tahun 2002 digunakan sebagai acuan penentuan GCP (Ground Control Point) karena citra tahun 2002 sudah terkoreksi radiometric dan geometric sehingga sudah mempunyai system proyeksi sendiri. Pada proyek ini citra tahun 2002 menggunakan system proyeksi UTM, datum WGS 84 dan Zona 48S. Jumlah GCP pada proyek ini ada 8 titik yang tersebar sehingga hasil koreksi geometric tidak mengalami distorsi yang cukup besar. Total RMSE pada proyek ini adalah 0.100494 piksel dan dianggap memenuhi syarat ketelitian.
    4. Komposit warna dilakukan untuk membentuk komposit warna yang alami sehingga mudah untuk diinterpretasi. Pada proyek ini digunakan komosit warna band 5,4,3 dengan komposit ini obyek darat dan laut nampak terpisah sehingga cocok untuk penentuan garis pantai dan penutup lahan.
    5. Cropping citra dilakukan setelah proses komposit, hal ini untuk memudahkan saja, namun bisa juga dilakukan setelah koreksi geometric. Cropping citra dimaksudkan untuk penentuan wilayak proyek yang akan dikaji agar tidak melebar sehingga wilayah proyek terfokus sesuai dengan tujuan. Proses cropping memanfaatkan data bantu berupa peta RBI format *jpg yang telah dikonversi kedalam format *shp dengan cara digitasi on screen.
  2. Pengolahan citra untuk perubahan penutup lahan meliputi training area, hitung statistic roi(training area), klasifikasi digital, uji ketelitian hasil klasifikasi, analisis dan pembuatan peta.
    1. Training area dilakukan dengan menggunakan data masukan berupa citra tahun 2002 dan tahun 2012 hasil cropping. Pemilihan training area berdasarkan pada skema klasifikasi yang telah dimodifikasi dari skema klasifikasi USGS yang pada akhirnya hanya terdiri dari 6 kelas yaitu kelas vegetasi, pemukiman, tubuh air, lahan kosong, awan dan batas luar. Untuk penentuan pemilihan training area dilakukan dengan menggunakan acuan peta penggunaan lahan tahun 2000 keluaran dari Bakosurtanal.
    2. Hitung statistic training area, hitungan statistic training area ini dimaksudkan untuk mengetahui obyek – obyek atau kelas – kelas tersebut berjumlah berapa piksel dan untuk mengetahui kelas tersebut memiliki nilai spectral berapa.
    3. Klasifikasi digital pada proyek ini menggunakan metode klasifikasi supervised algoritma minimum distance. Pemilihan metode dalam proyek ini didasarkan pada adanya data bantu berupa peta penggunaan lahan dan peta RBI sehingga memudahkan dalam klasifikasi dan hasil klasifikasi dapat dikontrol. Penggunaan algoritma minimum distance dimaksudkan untuk mempermudah dalam klasifikasi obyek yang sama dengan jarak terdekat akan dikelompokkan dalam kelas yang sama.
    4. Uji hasil klasifikasi dilakukan untuk mengetahui ketelitian dan nilai sparabilitas dari hasil klasifikasi, jika nilai sparabilitas antara 1,7 – 2,0 berarti hasil klasifikasi dianggap baik. Pada proyek ini prosentase ketelitian yang diijinkan adalah > 85% piksel, sehingga jika hasil uji klasifikasi menghasilkan ketelitian < 85% proses klasifikasi harus diulang dari pemilihan training area.
    5. Analisis perubahan penutup lahan dilakukan ketika kedua buat citra beda epok tersebut sudah terklasifikasi sempurna dengan tingkat keteliatian di atas 85%. Pada analisis perubahan ini digunakan metode change detection dan overlay vector sehingga diperoleh besarnya perubahan yang terjadi.
    6. Pembuatan peta dilakukan dengan mengeksport hasil analisis berupa peta perubahan ke software ArcGIS untuk dilakukan proses pemetaan dengan mengacu pada prinsip – prinsip kartografi.
  3. Pengolahan citra untuk perubahan garis pantai meliputi digitasi garis pantai on screen, overlay hasil digitasi garis pantai, dan analisis perubahan garis pantai.
    1. Digitasi garis pantai on screen dilakukan setelah proses klasifikasi selesai sehingga diperoleh kelas tubuh air dan kelas penutup lahan yang berada di daratan. Untuk penentuan garis pantai pada proyek ini dilakukan dengan proses digitasi on screen tanpa memperhitungkan nilai pasut yang terjadi, karena periode capture citra tidak tentu (bisa saja capture pada saat pasang tertinggi dan bisa juga capture pada pasang terendah). Hang Tuah (1991) mendefinisikan garis pantai sebagai “Garis imaginer yang terbentuk dan merupakan batas air laut dan daratan, garis ini berubah sesuai dengan kondisi pasang surut air laut baik perubahan sementara, maupun permanen dalam jangka waktu tertentu akibat adanya rekresi dan akresi”. Sehingga yang dilakukan digitasi adalah pada pertemuan antara daratan dan lautan yang nampak pada citra.
    2. Overlay hasil digitasi garis pantai dilakukan untuk mengetahui perubahan garis pantai bertambah panjang atau bertambah pendek, dengan pola maju atau mundur.
    3. Analisis perubahan garis pantai dilakukan setelah melihat hasil overlay garis pantai dengan menggunakan tools yang ada pada ArcGIS yaitu dengan menghitung panjang garis pantai dan luasan wilayah yang berubah.
    4. Pembuatan peta sama halnya dengan pembuatan peta pada penutup lahan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s