belajar propet

Aku mulai memahami beberapa hal yang semestinya harus kupahami dari awal, yups lebih tepatnya awal aku masuk semester lima tentang bagaimana memahami peta dan proyeksi – proyeksinya sehingga aku bisa benar – benar memahaminya dan mampu mendapatkan nilai maksimal. Namun karna kelalaianku aku lupa karna terlalu terpesona dengan sosok dosen yang sangat mengesankan sebut saja pak aris. Bliau salah satu dosen favoritku untuk beberapa semester ini karena dengan adanya bliau nilaiku jadi lumayan naik thanks to Mr. aris.
Dengan berbagai tempaan dan godaan silih berganti meggalaukan pikiran dan perasaanku yang kian membuncah aku tersadar dengan semua yang terjadi di sekitarku. Aku harus bangkit dan memahami beberapa hal yang layak dan patut ku pahami dan sedikit meninggalkan beberapa kebiasaan burukku yaitu sikap “cuek/masa bodoh”.
Mulai dari jurus pertama :
Pengertian propet yang merupakan singkatan dari proyeksi peta secara sederhana dapat dipahami sebagai suatu metoda/cara untuk mendeskripsikan/ menggambarkan permukaan bumi fisik ke dalam bidang datar atau sebuah bidang proyeksi yang dapat di datarkan. Bidang datar tersebut yang sering dipakai biasanya yaitu bidang kerucut dan silinder salah satu alasannya adlah karena kedua bidang tersebut jika di datarkan tidak mengalami distorsi. Model permukaan bumi yang digunakan antara lain geoid, ellipsoid, bola, bidang datar.
Geoid adalah bidang ekuipotensial gaya berat bumi yang berimpit dengan permukaan air laut rata-rata ( Mean Sea Level).
Ellipsoid adalah ellips yang diputar dengan poros sumbu pendeknya yang digunakan sebagai bidang acuan hitungan. Parameter elips antara lain setengah sumbu panjang : a, setengah sumbu pendek : b, pemampatan : f, eksentrisitas : e.
Bola adalah salah satu model bentuk permukaan bumi yang sering digunakan untuk mewakili bentukan permukaan bumi yang relative sempit dan datar sehingga memudah kan dalam perhitungan secara matematis.
Bidang datar adalah salah satu model permukaan bumi yang mewakili daerah yang relative sempit dan dianggap datar sehingga permukaan bumi bisa langsung digambarkan tanpa harus melakukan hitungan dan transformasi proyeksi peta.
Jurus kedua:
Memahami bagaimana mengetahui cirri – cirri peta ideal antara lain jarak dipeta dan jarak dipermukaan bumi sama setelah dikalikan dengan skala, bentuk dn arah di peta sama dengan bentuk dan arah di permukaan bumi, luas dipeta sama dengan luas di permukaan bumi setelah dikalikan dengan skala. Namun semua cirri – cirri yang diwajibkan tersebut tidak mungkin terpenuhi maka harus ada beberapa solusi yang mampu mengeliminir agar memenuhi syarat tersebut diantaranya membagi – bagi luasan daerah menjadi bagian – bagian yang lebih kecil hal ini dimaksudkan agar daerah yang dipeta kan tampak lebih datar sehingga mampu mengurangi distorsi, yang kedua dengan menggunakan bidang proyeksi datar atau yang dapat di datarkan atau jika didatarkan distorsi yang terjadi kecil.
Jurus ketiga:
Tahu bagaimana proyeksi peta yang bagus untuk wilayah – wilayah tertentu. Proyeksi peta bagus jika distorsi yang terjadi sangat kecil atau mendekati nilai nol atau tidak terjadi distorsi sama sekali. Untuk wilayah ekuator bidang pryeksi yang paling bagus adalah bidang silinder sedangkan untuk wilayah di atas atau di bawah ekuator yang paling bagus menggunakan bidang kerucut. Karena dengan bidang – bidang proyeksi tersebut daerah ekuator dan daerah diatas ataupun di bawah ekuator akan berimpit dengan bidang proyeksi sehingga distorsinya kecil.
Jurus ke empat :
Memahami pembagian proyeksi peta berdasarkan beberapa klasifikasinya.
Berdasarkan bidang proyeksi propet dibagi menjadi 3 yaitu:
a.       Azimuthal yaitu bidang proyeksi berupa bidang datar.
b.      Silinder yaitu bidang proyeksi berupa silinder.
c.       Kerucut yaitu bidang proyeksi berupa kerucut.
Berdasarkan persinggungan dengan bola bumi dibagi menjad 3 yaitu :
a.       Tangent yaitu bidang proyeksi berhimpit atau menginggung bola bumi.
b.      Secant yaitu bidang proyeksi memotong bola bumi.
c.       Polysupeficial yaitu terdiri dari banyak bidang proyeksi.
Berdasarkan sumbu simetri dibagi menjadi 3 yaitu :
a.       Proyeksi normal, sumbu simetri berimpit dengan sumbu bumi.
b.      Proyeksi miring, sumbu simetri membentuk sudut dengan sumbu bumi.
c.       Proyeksi transversal, sumbu simetri tegak lurus sumbu bumi atau terletak pada bidang ekuator .
Berdasarkan sifat asli yang dipertahankan dibagi menjadi 3 yaitu :
a.       Proyeksi ekuivalen, luas daerah dipertahankan sama.
b.      Proyeksi konform, sudut dipertahankan sama.
c.       Proyeksi ekuidistan, jarak dipertahankan sama.
Jurus ke lima :
Mengetahui definisi – definisi yang terkait dengan propet :
a.       Meridian adalah garis yang menghubungkan antara kutub utara dan kutub selatan, garis tersebut berupa setengah lingkaran yang sama besarnya. Garis meridian dimulai dari kota Greenwich.
b.      Paralel adalah garis yang sejajar dengan ekuator, garis tersebut berupa lingkaran yang tidak sama besarnya, makin jauh dari ekuator lingkarannya makin kecil. Jadi lingkaran yang terbesar adalah ekuator.
c.       Bujur suatu tempat (titik) adalah busur yang diukur (dalam derajat) pada suatu parallel antara meridian tempat tersebut dengan “prime meridian” (=meridian Greenwich). Meridian Greenwich mempunyai harga bujur Oo(nol derajat). Panjang bujur 1o di ekuator = 111,322 km.
d.      Lintang suatu tempat didefinisikan sebagai busur yang diukur (dalam derajat) pada suatu meridian antara tempat tersebut dengan ekuator. Lintang mempunyai harga dari 0o pada ekuator sampai 90o di kutub utara dan kutub selatan.
e.       Garis geodesic adalah garis (kurva) terpendek yang menghubungkan dua titik pada permukaan ellipsoid.
f.       Garis loxodrome atau rhumbline antara titik P1 dan P2 adalah garis (kurva) yang memotong meridian dengan asimut α yang konstan.
g.      Tissot Indicatrix : kesalahan elips yang terjadi pada bidang proyeksi, yang diakibatkan adanya distorsi dimana pada bidang datum berbentuk lingkaran.
Jurus ke enam :
Mengetahui beda antara bidang datum dan bidang proyeksi.
Bidang datum adalah bidang yang akan digunakan untuk memproyeksikan titik-titik yang diketahui koordinatnya (φ, λ).
Bidang proyeksi adalah bidang yang akan digunakan untuk memproyeksikan titik-titik yang mempunyai sistem koordinat (X, Y ).
Jurus ke tujuh :
Mengetahui macam – macam proyeksi dan cirri – cirinya . Macam – macam proyeksi yang digunakan di Indonesia antara lain proyeksi polieder, albert, UTM, TM3⁰, TM.
a.       Polieder
1.      Proyeksi kerucut , normal , conform.
2.      Kerucut menyinggung Bola bumi (tangent) pada salah satu paralel (disebut paralel tengah), yang diproyeksikan ekuidistan (merupakan paralel standart, dengan faktor skala (k)=1).
3.      Lebar zone 20’ x 20’ yang disebut sebagai LBD.
4.      Meridian tergambar sebagai garis-garis yang konvergen ke arah kutub. Paralelnya tergambar sebagai lingkaran-lingkaran yang konsentris.
5.      Setiap lembar bagian derajad (LBD), mempunyai sistem koordinat sendiri, yaitu :
Sumbu X  : pada paralel tengah
Sumbu Y  : pada meridian tengah
6.      Titik Nol : Perpotongan antara meridian tengah dan paralel tengah. Titik nol ini disebut dengan pusat Lembar Bagian Derajad ( Lo,Bo)
7.      Konvergensi meridian pada bagian tepi lembar bagian derajad kecil sekali, untuk wilayah Indonesia maksimum sebesar 1,75 menit (untuk Lintang10 derajad).
8.      Untuk jarak-jarak kurang dari 30 Km, koreksi jurusan   (t-T) harganya kecil.
9.      Garis grid dinyatakan dalam kilometer fiktif.
Keuntungan Proyeksi Polieder.
a.   Untuk daerah yang terletak dalam satu bagian derajad (20′ X 20′), sekitar 36Km X 36 Km, perubahan jarak dan sudut praktis tidak ada (karena kecil harga perubahannya), sehingga peta jenis ini baik digunakan untuk pembuatan peta skala besar.
b.   Karena jarak dan sudut pada permukaan bumi sama dengan sudut dan jarak di bidang proyeksi (lihat butir a.), maka jarak dan sudut tanpa dikoreksi dapat langsung di plot di atas peta.
Kerugian Proyeksi Polieder :
a.   Jika daerah yang dipetakan luasnya melebihi 36Km X 36 Km, maka harus selalu pindah bagian derajad atau pindah sistem koordinat dengan melakukan perhitungan transformasi koordinat antar lembar bagian derajad.
b.   Garis grid dinyatakan dalam kilometer fiktif (bukan kilometer sebenarnya).
c.   Kurang praktis untuk pembuatan peta skala kecil  (1 : 250.000) yang mencakup daerah luas.
            Penggunaan proyeksi polieder antara lain untuk kepentingan :
1.       Militer ( Dinas Topografi Angkatan Darat).
2.       Badan Pertanahan Nasional (BPN).
3.       Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
4.       Peta Teknik di bidang Rekayasa (Teknik Sipil).
b.      UTM
1.      Silinder, transversal, secant, conform.
2.      Memotong bola bumi di 2 meridian standard, k = 1.
3.      Lebar zone 6 °, sehingga bumi dibagi dalam 60 zone.
4.      meridian tengah tiap zone k=0,9996.
5.      Elipsoid referensi GRS 67.
6.      Absis semu ( T ) : 500.000 m ± X.
7.      Ordinat semu ( U ) : 10.000.000 m – Y.
c.       TM3⁰
1.      Secara geometrik, hampir sama dengan proyeksi UTM, merupakan proyeksi silinder transversal konform dimana bidang silinder memotong bumi ( secant ) di dua buah meridian.
2.      Perbedaannya dengan proyeksi UTM terletak pada penetapan faktor skala di meridian tengah/sentral dan lebar wilayah cakupan ( zone ). Pada proyeksi TM 3°, besarnya faktor skala (k) adalah 0,9999 dan lebar zone = 3°.
Proyeksi meridian sentral dan ekuator masing-masing merupakan garis-garis lurus yang saling tegak lurus. Sedangkan proyeksi meridian dan parallel lainnya merupakan kurva-kurva yang saling tegak lurus.
3.      Tiap zone mempunyai sistem koordinat sendiri , yaitu :
      Sumbu X: Ekuator
      Sumbu Y: Meridian sentral
      Titik Nol: Perpotongan meridian sentral dengan
                        ekuator
      Absis semu (T): 200.000 m pada Meridian Tengah
      Ordinat Semu (U): 1.500.000 m pada ekuator
      Koordinat (X,Y) dinamakan koordinat sejati,
      dan koordinat (T,U) dinamakan koordinat semu.
4.      Wilayah Indonesia terbagi atas 16 zone, mulai dari        meridian 93° BT sampai 141° BT dengan batas garis parallel ( lintang ) 6° LU sampai 11°, serta tercakup dalam zone nomer 46.2 s/d 54.1.
5.      Proyeksi TM 3° pada umumnya menunjukkan distorsi jarak yang semakin membesar ke arah timur maupun ke arah barat dari meridian sentral. Besarnya faktor skala (k) antara meridian sentral sampai jarak 90.000 m sebelah barat dan timur meridian sentral mempunyai harga 0,9999 sampai 1. Diluar batas tersebut, faktor skalanya lebih besar dari 1. Hal inilah yang membatasi lebar wilayah cakupan (zone) pada proyeksi  TM 3°.
6.      Proyeksi TM 3° beracuan pada  Ellipsoid referensi pada Datum World Geodetic System ( WGS ’84 ).
d.      TM
Cirri – cirinya :
1.      Silinder, Konform, tangent, transversal
2.       Meridian tengah berimpit dengan meridian standart, k = 1
3.      Lebar zone 3o.

One thought on “belajar propet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s